','

' ); } ?>

Contoh Kritik Karya Seni Rupa 2 dan 3 Dimensi

Pada dasarnya seni rupa dibagi menjadi dua macam berupa seni rupa dua dimensi maupun tiga dimensi. Supaya standar suatu seni karya menjadi lebih baik akan memerlukan kritik. Kritik biasanya diberikan oleh orang-orang yang sudah memahami dan berpengalaman di bidang seni. Anda bisa mengetahui beberapa contoh kritik karya seni rupa melalui pembahasan kali ini.

Kritik karya seni harus bersifat membangun. Tidak bisa diungkapkan secara sembarangan karena harus memahami bagaimana prosedur dan tahapannya. Setiap pemberi kritik juga diharuskan untuk mengetahui model kritikan yang solutif. Contohnya dapat Anda ketahui melalui pembahasan di bawah ini.

Pengertian Kritik Seni Rupa

contoh kritik seni rupa

Kita akan membahas mengenai contoh kritik karya seni rupa ditilik dari pengertiannya. Kritikan sendiri sudah sering diberikan sejak dahulu supaya bisa berpatok pada tujuan. Kritikan bisa berupa bentuk komentar, menilai, dan juga melontarkan tanggapan terhadap karya seni apapun. Terlebih lagi sebagai manusia juga memiliki banyak kemampuan dasar. 

1. Kemampuan dasar absorptif: Kemampuan dasar yang satu ini lebih berfokus ke tindakan pengamatan.

2. Kemampuan dasar retentif: Kemampuan dasar yang lebih condong ke arah mereproduksi sekaligus mengingat.

3. Kemampuan dasar reasoning: Kemampuan dasar yang lebih mengacu ke proses analisa dan juga pertimbangan.

4. Kemampuan dasar kreatif: kemampuan untuk menafsirkan, berimajinasi, dan juga mengutarakan pendapat.

Setiap manusia penting untuk menggunakan seluruh kemampuan dasar tadi dengan baik dalam memberi kritik. Kemampuan itu juga yang membuat manusia mampu mengutarakan kritikan. Tidak heran bila kritikan dianggap menjadi suatu hal yang wajar. Pada beberapa manusia yang punya keempat kemampuan dasar yang pekat, lebih cenderung sering memberikan kritik.

Pemberian kritik di era kini bisa dilakukan melalui berbagai media, baik offline maupun online. Banyak orang yang sekarang lebih bebas berbicara menyampaikan reasoning maupun menyalurkan kreativitasnya. Keduanya juga memacu manusia dalam memberikan komentar meskipun tidak diminta. Dengan kata lain, hal tadi disampaikan secara tidak sengaja.

Proses penyampaian pendapat yang diasosiasikan sebagai kritik sudah menjadi hal lumrah. Pada orang lain yang kritis juga berkencenderungan melontarkan pendapat kritis ini. Orang kritis biasanya menyatakan pendapat atau kritik dengan memenuhi beberapa unsur seperti cipta, rasa, maupun karsa. Tidak heran kalau dalam dunia karya seni pun  juga ada yang disebut dengan kritikan.

Namun kritikan yang didahulukan selalu yang bersumber dari orang ahli di bidangnya. Kritikan yang berasal dari orang bukan ahlinya dapat dinilai benar atau salah sehingga kurang bisa diprioritaskan. Kritik yang tidak benar dapat diabaikan karena sifatnya yang tidak membangun. Perbaikan seni harus selalu berpatok pada sumber yang terpercaya dan memang ahlinya.

Contoh Kritik Karya Seni Rupa

contoh kritik seni rupa

Dalam pembahasan kali ini kita akan membaginya menjadi dua kategori yakni 2 dimensi dan 3 dimensi. Kritikan akan disampaikan melalui beberapa poin penting, seperti deskripsi, interpretasi, dan juga analisa formal. Proses penyampaian kritik juga tidak melupakan bagian evaluasi juga. Langsung saja kita bahas tentang contohnya di bawah ini.

1. Karya Seni 2 Dimensi Berupa Lukisan

Sebuah lukisan biasanya memiliki judul tersendiri. Dari judul biasanya akan dinilai apakah sesuai dengan lukisannya atau tidak. Lukisan yang bergenre abstrak tidak dapat dinilai oleh orang awam. Hanya para pecinta seni saja dan ahlinya yang bisa menilai dengan baik. 

Bagian deskripsi dari suatu lukisan menyertakan ukuran dari canvas, judul, dan juga apa yang tergambar di dalamnya. Semakin besar ukuran dari lukisan maka semakin diapresiasi karena perlu lebih banyak waktu untuk menyelesaikan. Ditambah lagi kalau suatu lukisan memiliki kombinasi warna yang rumit dan mendetail. 

Seringkali bagian deskripsi juga menjelaskan tentang apa yang terkandung dalam lukisan.

Sebagian deskripsi juga sering membahas tentang latar belakang. Dominasi warna juga tak sering dibahas seperti didominasi warna kuning, merah, dan lain-lain. Semakin mendetail bagian deskripsi maka menjelaskan bahwa penilai mengamati semakin seksama. Hal ini juga memerlukan ketelitian yang tinggi dalam menilai karya seni.

Sedangkan bagian analisa formal lebih menjelaskan mengenai ciri khas dari setiap pelukis. Misalkan saja dilihat dari bagian pohon, daun, hewan, dan lain sebagainya. Banyak pelukis terkenal yang punya guratan khusus sehingga hasil karyanya dapat dibedakan dari hasil lukisan pelukis lain. Beberapa lukisan juga terkenal berkat ciri khas pewarnaannya. 

Harmonisasi garis, titik, dan warna yang tepat bisa menimbulkan kesan seimbang pada lukisan. Keseluruhan elemen dalam lukisan tadi bisa membentuk keterpaduan yang khas dan unik. Kita akan membahas tentang interpretasi suatu lukisan juga. Interpretasi ada kaitannya dengan pandangan dari orang yang melihat. 

Perpaduan guratan dan warna tertentu bisa menimbulkan kesan yang sejuk dan damai. Namun kombinasi tertentu juga bisa memperlihatkan emosi pelukis ketika sedang membuat sebuah karya seni. Lukisan sendiri juga dapat menggambarkan karakter pelukisnya bila ditilik dari segi psikologi. Misalkan saja garis yang tebal dapat diasosiasikan sebagai karakter yang kuat dan teguh prinsip. 

Lalu evaluasi bisa memberikan kesimpulan apakah suatu karya seni lukisan masuk kategori baik atau tidak. Penilaian bisa dilihat dari segi teknik yang dipakai. Tingkat kesulitannya dalam pembuatan lukisan baik dari segi garis maupun pewarnaan. Hasil harmonisasi keseluruhan dari lukisan juga biasanya akan dinilai.

2. Karya Seni 3 Dimensi Berupa Guci

Penilaian terhadap guci bisa dari banyak segi. Namun penilaian sering kali dilakukan dalam hal kerumitan bentuk, keindahan, dan juga dimensinya. Sebuah kritik terhadap pembuatan guci juga disampaikan dengan jalan yang sama terhadap karya seni 2 dimensi. Semua dimulai dari deskripsi yang menyertakan nama guci, deskripsi, dan lain-lain. 

Nama pembuat guci juga menjadi tolok ukuran penilaian. Guci yang dibuat oleh pembuat guci terkenal biasanya sudah dipahami kualitasnya. Guci yang demikian seringkali dijadikan koleksi dan harga semakin mahal dari waktu ke waktu. Tak jarang juga gucinya memiliki ciri khas tertentu baik dari segi teknik pembuatan maupun gambarnya.

Baca Juga : Mengenal Contoh Kerajinan Berbasis Media Campuran Beserta Contohnya

Analisa formal juga sering dilakukan dalam menyampaikan penilaian karya seni guci. Mereka akan menganalisa bagian ketebalan dari guci juga. Hal ini bisa juga dilakukan dalam rangka memahami originalitas dari suatu karya seni guci. Jika memang kualitas dari fisik gucinya baik biasanya juga akan diberikan komentar baik.

Namun berlaku untuk hal sebaliknya ketika suatu karya seni guci tidak baik. Bahkan dalam hal guci seringkali dinilai kekokohan dair gucinya juga. Jika guci terlalu tipis maka rentan mengalami pecah atau retak. Kualitas hasil karya seni yang demikian sudah pasti tidak baik.

Penilaian dari suatu karya seni juga tidak pernah bisa lepas dari hasil evaluasi. Hasil evaluasi yang valid hanya dapat dilakukan oleh orang yang ahli dalam karya seni. Tidak bisa sembarangan orang yang memberi kritik terhadap suatu karya seni.