The Power Of Being Yourself

Definisi pentingnya menjadi diri sendiri bagi Aimee Saras.

0
17

She might be born as Dyah Rahmi Saraswati, seorang wanita yang sekolah dan besar di New York, Amerika Serikat. Namun kini, penyiar radio, bintang film dan penyanyi ini lebih dikenal sebagai Aimee Saras. A performer, sebuah titel profesi yang ingin lebih dilekatkan ke dalam dirinya. “Aimee Saras as a performer,” ungkapnya ketika ditanya ingin dikenal oleh masyarakat luas sebagai apa. “I love to perform and singing, namun tidak sekadar hanya sebagai penyanyi. Profesi penyanyi saat ini dapat dibilang sangat luas jangkauannya. Could be just singing for a cover or particular project, namun tidak menjadikannya sebagai sebuah profesi yang regular dilakukan, not for a job,” lanjutnya.

Kekaguman dan kesukaan Aimee Saras dengan tampilan retro ternyata telah ada semenjak remaja. “Sepertinya saya sudah mulai menggemari tampilan retro seperti ini sejak sekolah. Aku dari remaja memang suka tampil sedikit retro. I wore a suit, like a fitted cutting 1940s suit. Untuk mendapatkan baju-baju vintage ini, saya sering sekali mengunjungi vintage store untuk berburu barang-barang unik,” jelasnya. Walaupun demikian, ia mengakui sempat merasa kurang percaya diri karena sering mendapat peer pressure dari orang-orang sekitar. Hal ini pun kembali terjadi ketika ia kembali ke Indonesia, 2007 silam. “Saya sempat menjadi manusia ‘normal’ ketika kembali ke Indonesia. But again, I said to myself, I love that style, let me just do my own thing. Saya orang memang fleksibel, namun saya tidak mau terlalu menuruti apa kata orang. Jadi ya sudah, saya kembali membuat my own ‘persona’ dan tetap pada personal style ini,” lanjut wanita yang mengidolakan Dita Von Teese dan Madonna tersebut.

Persistent dengan idealisme, tampaknya sesuai dengan diri Aimee Saras. Tak hanya dari gaya berpakaian, namun juga selaras dengan idealisme profesi. Kariernya di dunia stage theater bermula dari pilihannya untuk mengikuti kelas seni peran setelah lulus kuliah. “Saya sudah menyukai seni peran dan musik sejak kecil, tapi tidak bisa mengikuti performing art school karena orang tua kurang setuju saat itu. So I did an intensive program setelah lulus kuliah dan sangat beruntung dapat bergabung di Broadway theater di New York, Miss Saigon,” ceritanya. Kesuksesan awal Aimee Saras dapat bergabung di sebuah penggarapan ternyata tak lepas dari sisi persistent akan cita-citanya berkecimpung di dunia seni peran. “Tentu saja butuh waktu dan komitmen yang tinggi. Saya terus-menerus mengikuti audisi dan ini tidak mudah, karena I felt like a little fish in a big pond, sebagai seniman Asia Tenggara yang begitu niche di New York,” lanjutnya. Hingga pada akhirnya, dengan dorongan sejumlah keluarga saat itu, Aimee Saras memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

“I decided to go back to Indonesia karena berpikir, mengapa harus terus-menerus menjadi tamu di sebuah negara, sedangkan sebenarnya bisa menjadi tuan rumah sendiri di negara asal. Beberapa keluarga saya juga ikut meyakinkan kalau industri seni peran di Indonesia tengah berkembang dan dapat melebarkan sayap lebih jauh lagi jika berkarier di sini,” ceritanya. Selang beberapa lama ia kembali ke Tanah Air, Aimee Saras pun pada akhirnya berkecimpung ke industri seni peran yang saat itu komunitasnya masih tak sebesar saat ini. Namanya mulai melambung ketika ia dipilih oleh Joko Anwar untuk terlibat di teater Onrop! Musikal. Kini sudah beberapa project yang melibatkan sosok Aimee Saras. Sebut saja Musikal Bawang Merah Bawang Putih, film Melancholy is a Movement, film Gila Jiwa The Movie dan serial Halfwords. Ia pun telah menelurkan beberapa single, yakni To NY, It Was June dan Tidur Untukmu serta satu album bertajuk Swingin’ Aimee.

Kesuksesan remake film horor Pengabdi Setan, yang masih besutan Joko Anwar ternyata juga mengangkat lagu Kelam Malam yang menampilkan suaranya. “Kebetulan aku juga sudah beberapa kali bekerja sama dengan Joko Anwar. Suami saya juga seorang musisi dan Joko Anwar kemudian menyarankan untuk, ‘Kenapa kalian tidak berkolaborasi dan membuat soundtrack untuk Pengabdi Setan?’ Oleh karena itu, jadilah The Spouse ini, yang bisa dikatakan sebagai alter ego saya,” ungkapnya. Demi mendapatkan mood mencekam seperti yang terdengar di lagu tersebut, ternyata ada beberapa hal yang harus Aimee Saras lakukan. “Memang cukup menantang ketika menggarap lagu ini. Biasanya, ketika saya bernyanyi, saya lebih ekspresif sementara ini mood-nya jauh berbeda. Selain harus mengontrol ekspresi bernyanyi, saya bahkan harus mematikan lampu ketika rekaman untuk mendapatkan hasil lebih maksimal,” lanjutnya.

Fotografi : Zaky Akbar
Teks & Pengarah Gaya : Edwin Habibun
Asisten Pengarah Gaya : Stephen Tanius
Makeup & Hair : Marcella Merlyn
Lokasi : LaFlo