Looking-Up The Legacy with Lukman Sardi

Pengakuan Lukman Sardi tentang passion, perjalanan karier dan kehidupan pribadinya.

0
19

Menemuinya di salah satu sudut kota Jakarta, The Folio (TF) langsung bisa menangkap wibawa dan keramahan dari seorang Lukman Sardi. Siang itu ia terlihat cukup rileks dengan menggunakan kaus hitam. Tanpa ragu kami berjabat tangan dan satu yang tak lepas dari raut wajah Lukman ialah senyumnya. Ekspresinya membuat kami menerka bahwa aktor yang sempat beberapa kali main film dengan arahan sutradara Riri Riza, Hanung Bramantyo dan Ody C. Harahap ini sedang dalam mood yang sangat baik.

Masih teringat betul di benak Lukman ketika ayahnya mempertemukannya dengan Wim Umboh, seorang sutradara kawakan Indonesia yang kemudian mengajaknya untuk memerankan tokoh anak-anak. Saat itu ia masih belum menganggap main film sebagai bentuk pekerjaan. Saking menikmatinya, ia berhasil menyelesaikan akting hingga 8 judul film yang dimulai sejak tahun 1979. Lawan mainnya sudah sekelas Roy Marten dan Christine Hakim. Setelahnya, ia sempat vakum di dunia perfilman untuk menyelesaikan jenjang studi dan sempat berprofesi di bidang lain.

Secara profesional, Lukman kemudian kembali aktif menjadi partisipan di dunia perfilman Indonesia sebagai aktor pada tahun 2003 dalam film berdurasi pendek berjudul Durian. Meski ia sempat mencoba bidang pekerjaan lain, tampaknya ia memang masih memiliki rasa penasaran tinggi untuk kembali berakting. Selang beberapa tahun, Lukman kembali mendapat tawaran untuk casting dan bermain dalam film Gie (2005) yang disutradarai oleh Riri Riza, dengan lawan main Nicholas Saputra. Melalui film ini Lukman menancapkan passion-nya sebagai seorang aktor.

Kembali ke film, dari awal karier hingga sekarang, pengalaman paling berharganya adalah? Wah banyak sekali. Karena bagi saya film itu sarat akan penjelajahan. Setiap film memiliki wadah eksplorasi yang berbeda. Selain itu, pengalaman lain yang tak ternilai adalah dengan bermain film, saya mampu menemukan pembelajaran baru, orang-orang baru, serta keunikan dan hal-hal yang tidak dapat ditemukan di cakupan pekerjaan lain. Bermain dalam film itu asyik. Sulit untuk menentukan pengalaman menarik, karena saya benar-benar menikmati seluruh prosesnya. Seumpama napas adalah bagian penting dalam manusia untuk bisa hidup, film adalah napas saya. Ketika saya berhenti bermain dan memikirkan tentang film, berarti saya sudah mati, karena saya berhenti bernapas.

Penampilan berjanggut ini tuntuan peran, kah? Betul, ini untuk peran dan pengambilan gambar film Wiro Sableng 212, yang kira-kira akan memakan waktu hingga bulan November. Pada film ini saya memerankan tokoh Werku Alit. Ini merupakan proyek film yang membuat saya sangat senang, karena dahulu saya juga menonton serialnya di televisi dan juga membaca novel Wiro Sableng. Sehingga hal ini cukup familier buat saya, sehingga tanpa pikir panjang, saya langsung menerima tawarannya. Ini juga merupakan film Indonesia pertama yang berkolaborasi dengan FOX dari Amerika Serikat. Kesannya, ketika mengetahui film ini berhasil menarik perhatian sebesar itu adalah kembali ke prinsip. Saya membiarkan prosesnya mengalir dan mengerjakannya dengan sepenuh hati. Kalau nanti ke depannya akan ada keputusan dari FOX untuk berkolaborasi lebih jauh dengan perfilman Indonesia atau bahkan mengajak saya bermain lagi, akan saya anggap sebagai berkah yang luar biasa. Tapi saya tidak mau memfokuskan tiba-tiba main film dengan gol tertentu semacam itu. Karena menurut saya itu dapat menjadi beban tersendiri. Lagi pula, buat saya film lebih dari itu, film adalah passion, tentang apa yang saya cintai.

Film favorit hingga saat ini? Salah satunya film Eropa, Le Grand Voyage (2004) yang disutradarai Ismaël Ferroukhi. Film ini bercerita tentang hubungan ayah dan anaknya yang berumur 18 tahun. Dalam film ini saya mampu melihat dan merasakan intensitas dari hubungan ayah dan anak yang kurang cocok, namun di tengah perjalanannya mereka mampu menemukan pribadi satu sama lain, dengan ending yang luar biasa. Saya menemukan kesamaan dalam film ini dengan hubungan saya dan ayah saya. Beliau adalah orang yang paling saya sayang, namun juga mampu membuat saya sangat jengkel. Tipikal hubungan ayah dan anak laki-lakinya lah ya. Meski sama-sama keras dan tidak akur, pada akhirnya mereka berdua tentu saling menyayangi dan mendukung. Selain itu, saya juga menyukai The Judge (2014), film yang disutradarai oleh David Dobkin, penggarapan, kekuatan cerita dan akhir filmnya juga sama luar biasanya.

Bagaimana rasanya ketika Anda memerankan tokoh Bung Hatta di film Soekarno (2013)? Sangatlah menarik. Sebagai riset pendukung untuk menggali ruang eksplorasi yang saya sebutkan sebelumnya, saya sempat menghampiri rumah beliau untuk kemudian berbincang dengan Halida Hatta dan Meutia Hatta yang merupakan putri dari mendiang Bung Hatta. Pada satu kesempatan ketika saya mampir di rumahnya, saya diminta untuk mencoba untuk memakai kemeja dan jas favorit dari Bung Hatta. Saya kaget bukan main, sekaligus deg-degan. Ternyata pas di badan saya. Lalu saya tidak menunda untuk mengambil foto dengan setelan jas tersebut. Saya melanjutkan riset dengan berbincang dengan orang-orang terdekat Bung Hatta. Sampai berhasil memahami karakter beliau yang super disiplin, humanis dan rapi. Saking rapinya beliau tidak pernah keluar kamar dalam keadaan belum siap. Dari buku catatan terlihat kedisiplinannya dalam menulis, tak ada satu coretan pun terlihat, catatan kaki pada setiap halaman juga jelas tertulis. Saya mendapati sosok humanisnya untuk kemurahan hati beliau dalam membantu orang lain, tetap jujur, sederhana dan tidak memanfaatkan jabatan. Bahkan sampai merelakan impiannya untuk memiliki sepatu bermerek Bally yang pada era itu sedang terkenal-terkenalnya. Hingga sampai saat-saat terakhir hidupnya, Bung Karno menemui Bung Hatta, satu pertanyaan yang pertama keluar ialah, “Sudah dapat belum sepatu Bally-nya?” tanya Bung Karno pada Bung Hatta. Di sinilah kita melihat jiwa seorang pemimpin dan tokoh seorang rakyat yang tidak mau memanfaatkan kekuasaan dan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan pribadi semata.

Simak cerita Lukman selengkapnya pada majalah The Folio edisi Nov-Des 2017.

Fotografi : Vicky Tanzil
Pengarah Gaya : Raynard Randynata
Teks : Billy Saputra
Grooming : Ike Riani Hartono
Asisten Pengarah Gaya : Stephen Tanius