When Is Appropration Homage And When Is It Plagiarism?

Terbebas dari perasaan bersalah dan budaya saling menyalahkan.

0
16

Saya ingat pernah berpapasan dengan satu kutipan yang berkata “there is nothing new under the sun”. Tentunya interpretasi setiap orang akan kutipan tersebut akan berbeda tergantung pengartian mereka masing-masing. Untuk saya sendiri, kutipan itu dapat diartikan bahwa tidak ada lagi yang “orisinil” seutuhnya di dunia ini. Pemahaman ini pun bisa disambungkan ke dalam industri kreatif specifically dalam konteks fashion.

Ramainya perbincangan di media sosial akhir-akhir ini seputar plagiarisme antar sesama pekerja kreatif membuat saya tergerak untuk menumpahkan opini pribadi, yang tentunya subjektif. Pencarian saya yang sedikit lebih mendalam jatuh kepada satu video TED Talk oleh seorang filmmaker bernama Kirby Ferguson yang dikenal sebagai kreator esai “Everyting is a Remix”. Dalam video tersebut Ferguson menuturkan bahwa kreativitas itu muncul dari “luar” dan bukan dari diri sendiri. “We are not self-made. We are dependent on one another, and admitting this to ourselves isn’t an embrace of mediocrity and derivativeness. It’s a liberation from our misconceptions, and it’s an incentive to not expect so much from ourselves and to simply begin,” lanjutnya.

Menurut saya, kutipan tersebut sedikit banyak menyediakan pencerahan atas kontroversi yang bermunculan akhir-akhir ini. Jawaban pertama yaitu kita harus berani mengakui bahwa karya yang diciptakan dapat terinspirasi dari banyak hal yang sudah pernah ada sebelumnya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Dengan berpendapat demikian bukan berarti kita membenarkan plagiarisme. Memang semakin ke sini garis yang memisahkan antara plagiarisme dan mengambil inspirasi semata menjadi semakin kabur. Namun tentunya naluri dan keputusan kita masing-masing dapat menentukan secara objektif apakah satu karya baru sekadar menyalin karya yang pernah ada sebelumnya atau memang hanya terinspirasi saja. Safe to say semakin kita mengekspos diri terhadap pengetahuan di dunia seni dan kreatif melalui bacaan dan tontonan yang tersedia, semakin terbiasa juga kita dalam memilah kreasi yang ada.

Maraknya akun Instagram yang diciptakan dengan asas menjadi “kritik” fashion di zaman kontemporer ini juga bisa menjadi pedang yang bermata dua. Memang di satu sisi, akun-akun ini memaksa kita sebagai penikmat fashion untuk berpikir semakin kritis akan berbagai karya yang notabenenya semakin mudah diakses siapa saja. Namun di sisi lain, deduksi akun yang sama tersebut (dengan rangkaian caption bermulut pedas) seringkali meleset dan bahkan hanya terkesan menyerang beberapa pihak tertentu. Di titik itu lah menurut saya pribadi kritik yang diberikan tidak lagi terdengar konstruktif dan kurang mendidik bagi para pengikutnya. Alangkah baiknya jika kita semua belajar untuk menggunakan platform digital yang powerful ini dengan lebih hati-hati karena at the end of the day, apa yang kita kreasikan dan akhirnya tunjukkan kepada publik merupakan cerminan akan pribadi kita masing-masing.

 

Teks : Raynard Randynata
Ilustrasi : Keyza Anta