The Digital Belles

What you wear is how you present yourself to the world, especially today, when human contacts are so quick. Fashion is instant language - Miuccia Prada.

0
54

Perkembangan media sosial di masa kini telah berhasil mengubah metode berkomunikasi masyarakat luas. Dengan sejumlah platform yang tersedia, cara pandang seseorang akan sesuatu hal juga mampu berubah, baik kea rah negatif maupun positif. Media sosial berhasil menjadi metode penyebaran informasi tercepat, hingga pembentukan opini tertentu. Seorang opinion leader mampu terbentuk sebatas melalui sosial media. Era digital, ketika semuanya hadir dan berkembang secara instan, menjadikan media sosial berevolusi sebagai tool kit paling esensial penyebaran informasi, hingga pembentukan personal brand tersendiri. Fashion yang sejak awal kehadirannya telah menjadi “instant language’, semakin fluid perkembangannya sejak menyatu dengan media sosial. Hal ini kemudian semakin diperkuat dengan adanya influencer yang menjadi panutannya. Fashion bloggers tak lagi sekadar sekumpulan orang-orang pecinta mode yang mengunggah foto outfit of the day masing-masing, namun kini mampu memberi pengaruh dan meningkatkan awareness akan sesuatu hal kepada orang banyak.

Esensialnya seorang influencer di dunia fashion belakangan ini, menarik The Folio untuk bertemu dengan tiga fashion blogger; Olivia Lazuardy, Elxi Elvina dan Caroline Robianto. Dengan latar belakang yang berbeda-beda, tiga perempuan ini mengaku tak memiliki niatan awal untuk menjadi seorang influencer. “Ketika kuliah, major saya memang bukan fashion, tapi saya telah menyukai dunia ini sejak remaja, namun saat itu tidak didukung oleh orangtua. Ketika telah mampu memilih jalan hidup sendiri, akhirnya saya memulai membuat fashion blog. Tujuannya saat itu sekadar berbagai tip mode dan dress up. Ternyata traffic-nya bagus dan akhirnya jalan hingga sekarang,” jelas Olivia. Sementara Elxi mengungkapkan, kalau statusnya sebagai fashion influencer bermula tak sengaja. “Tidak pernah berencana menjadi influencer. Awalnya mungkin karena saya suka foto outfit of the day, kemudian di Instagram sering muncul di kolom suggested user hingga pada akhirnya follower saya semakin bertambah,” ujarnya. Caroline yang juga berprofesi sebagai public relations pun berpendapat serupa. “Saya tidak pernah mengaggap diri saya sebagai influencer, karena saya tidak pernah menjadikan hal ini sebagai profesi utama. Mungkin predikat influencer itu lebih tercipta dari pemberian orang lain, tapi saya tidak pernah mengaggap diri saya sebagai influencer,” ungkapnya.

Banyak hal positif yang bisa diperoleh menjadi sebagai influencer. “Bisa bertemu banyak orang baru, misalnya. Mampu kenal orang-orang dengan latar belakang berbeda tapi sama-sama menyukai fashion merupakan hal paling menarik. Selain itu mungkin bisa turut bekerja sama langsung dengan sejumlah label fashion juga menjadi salah satunya,” ungkap Elxi. Caroline pun menambahkan, salah satu kelebihan menjadi fashion influencer itu antara lain dapat menjadi salah satu orang pertama yang melihat dan experience langsung produk-produk fashion terbaru. Walaupun demikian, hal paling terpenting keutamaan menjadi seorang influencer yakni suaranya mampu didengar oleh orang banyak. “Apa yang kita sampaikan melalui platform media sosial masing-masing, mampu didengar oleh orang banyak dan mereka percaya dengan apa yang kita sampaikan,” jelas Olivia.

 

Teks & Pengarah Gaya : Edwin Habibun
Fotografer : Thomas Sito
Makeup & Hair : Apriana Susanto, Arimbi, Richard Theo,

SHARE
Previous articleArt Appreciation
Next articleTwo Wheeled Monster