Sex and the Sensitivity

Pertanyaan tentang gender dan karir (dan yang paling anyar pelecehan seksual dalam dunia profesional).

0
10

Judul dengan kata seks tidak selalu harus berkenaan dengan hubungan intim, tapi juga arti harfiah yaitu jenis kelamin alias gender yang kini sering di gembar-gemborkan dalam berbagai topik. Maraknya pergerakan resistensi dari para perempuan di berbagai belahan dunia akhir-akhir ini juga menjadi salah satu alasan saya ingin menulis sedikit tentang gender yang sudah menjadi never-ending topic to share. Saya pribadi sering bersinggungan dengan isu serba serbi gender ini. Misalnya saja pertanyaan, “oh perempuan kok kerjanya di majalah lifestyle pria?” Jujur saya malas menanggapi, tapi lama kelamaan saya jadi sering menjawab dengan nada (sedikit) nyinyir “apa bedanya dengan chef kelas dunia yang sebagian besar diisi oleh pria padahal pekerjaanya berurusan dengan dapur yang identik dengan ibu-ibu?” Yang terkadang membuat saya penasaran adalah apa ada yang melontarkan pertanyaan yang sama pada desainer atau editor fashion pria yang bekerja di lahan milik wanita?

Padahal masalah yang bersangkutan dengan passion tentu sah-sah saja jika tidak sesuai dengan pakem stereotip seperti wanita sama dengan ibu rumah tangga dan pria sama dengan pencari nafkah, atau wanita menjadi public relations atau pria menjadi akuntan. Sedangkan pada tahun 1960an, Katherine Johnson sudah memecahkan rumus aljabar pertama agar manusia bisa pergi ke bulan. Bagi saya justru aneh kalau sampai hari ini masih ada yang bertanya tentang pekerjaan dan hubungannya dengan jenis kelamin. Dan yang terpenting adalah bekerja sesuai dengan kecintaan kita pada bidangnya masing-masing, atau berusaha mencintai apa yang sedang kita kerjakan. Mungkin terdengar sepele tapi bagi saya tiap orang memiliki latar belakang yang berbeda hingga ia pada akhirnya memilih pekerjaan tersebut.

Meski sah-sah saja jika masih banyak yang beranggapan bahwa kesetaraan gender harus berlaku sesuai dan fungsional. Namun ada baiknya juga jika berpikir lebih panjang sebelum memberi komentar dan pertanyaan. Menurut saya konsep he for she dan she for he jauh lebih bisa diaplikasikan dibanding debat kusir tentang perkara kesetaraan gender. Mungkin untuk kedepannya agar tidak menyinggung polemik gender, lebih baik pertanyaan tentang seluk beluk karir diganti dengan “do you really love what you’re doing for a living?

Ditambah skandal sexual harrasment yang baru-baru ini melanda Hollywood. Awalnya para aktris mengeluarkan statement telah dilecehekan secara seksual oleh petinggi Weinstein Company, Harvey Weinstein yang baru saja dipecat oleh perusahaannya yang ia rintis. Tidak ketinggalan komedian Louis C.K dan Breett Bratt Ratner yang melakukan hal yang sama memalukan. Ini tidak berlaku hanya untuk wanita, Kevin Spacey juga terkena kasus serupa dengan melecehkan aktor pria 30 tahun yang lalu. Belum lagi yang pernah dilakukan Bagi saya hal ini tidak ada sangkut pautnya dalam sudut pandang gender melainkan garis besar perbuatan asusila yang sudah pasti melanggar hukum. Perbedaannya hanya pada judgement “pemirsa” yang sering berkomentar di dunia maya. Perempuan atau laki-laki, baik atau buruk, prestasi atau asusila semua kembali pada individu masing-masing. Karena hidup adalah pilihan.

 

Teks : Gracyamanda Hutabarat
Foto : The Folio

SHARE
Previous articleBest Home Tech
Next articleTime After Time