Influencers On The Runway

0
45

So here’s the thought, what the heck the influencers do on the runway? Kami sudah cukup berempati dengan para model yang profesi utamanya di dalam majalah—terutama cover dan campaign sejumlah rumah mode tergantikan oleh para selebritas kelas A. Namun satu-satunya profesi model yang tersisa; runway model pun mulai tergantikan dengan para influencer, atau mereka menyebutnya sebagai muse. Memang, truth be told, industri mode global saat ini sedang bersusah payah. Sejumlah majalah mulai menghentikan edisi cetaknya—beberapa berusaha mencari peruntungan dengan beralih ke online platform. Tak sedikit rumah mode dan retail fashion pun menutup beberapa gerai brick and mortar-nya, menutup lini kedua atau ketiganya hingga tidak berproduksi sama sekali, karena menurunnya keuntungan tahunan mereka. Ini diakibatkan karena semakin meningginya harga jual yang tak diikuti dengan daya beli masyarakat. Salah satu cara ampuh untuk menarik perhatian masyarakat luas; pengaruh selebritas. Menampilkan pesona bintang papan atas dianggap mampu memberikan keuntungan lebih besar dengan lebih luasnya penyebaran awareness sebuah brand. Tujuannya hanya satu, menggaet masyarakat luas untuk mengikuti tampilan para selebritas tersebut.

Semakin masifnya perkembangan sosial media, kekuatan para influencer ini pun terkesan semakin besar. Beberapa rumah mode dan brand pun kemudian menggunakan kesempatan ini untuk menggunakan power of the influencers ini untuk meningkatkan kembali awareness mereka di atas runway. Ini yang saya perhatikan beberapa minggu lalu di perhelatan Plaza Indonesia Men’s Fashion Week (PIMFW) 2017. Beberapa brand memilih untuk menggunakan figur publik, baik selebritas maupun sekadar blogger instagram yang memiliki jumlah follower puluhan ribu, untuk turut berjalan di atas runway dengan beberapa model profesional lainnya. Bahkan ada pula yang memilih untuk menampilkan keseluruhan muse, tanpa menggunakan model sama sekali. “Karena menurut kami, influencer dan figure public terbukti lebih efektif memberikan impact ke sisi branding serta penjualan Antony Morato,” ungkap Ivana Tanujaya, marketing manager label asal Italia tersebut. Namun ternyata, tak hanya melihat dari sisi penjualan, pemilihan influencer ini ternyata terkait dengan figur “real people” yang begitu sulit direpresentasikan melalui model. “Influencer dan public figure memiliki postur tubuh yang lebih ‘human’ serta lebih realistis. Hal ini turut mampu menarik minat viewer untuk membeli brand kami, karena sosok-sosok tersebut lebih mewakili,” lanjut Ivana.

Hal tersebut terbilang masuk akal. Visi konsumen tentu akan terbentuk lebih nyata ketika sederetan rancangan terbaru sebuah brand dikenakan oleh orang-orang yang “mewakili” bentuk tubuh masyarakat pada umumnya. Back in June 2012, rumah mode Dolce & Gabbana bahkan melakukan gebrakan lebih ekstrem. Dalam pagelaran busana koleksi musim panas 2013 miliknya, Domenico Dolce dan Stefano Gabbana, sang duo desainer, menampilkan non-model models. Alih-alih mempekerjakan supermodel pria untun berjalan di atas runway, rumah mode Italia tersebut memilih penduduk setempat desa Sisilia sebagai bentuk back to roots Dolce & Gabbana. Mereka seolah ingin memperjelas visi koleksinya saat itu dengan menampilkan real people. Selain itu, mereka pun mencoba menunjukkan bahwa rancangan yang dikreasikan masih terlihat menarik jika dikenakan orang-orang biasa, bukan model profesional. Hal ini pun diakui pula oleh Amot Syamsuri Muda, yang juga menunjukkan koleksi terbarunya di PIMFW 2017. “Bagi saya, selalu memilih ‘cameo’ di dalam sebuah pagelaran busana itu untuk memperjelas tema dari koleksinya. Di koleksi ini misalnya, we are talking about ‘being young and comfortable in your own skin.’ Oleh karena itu aku memilih cameo yang kurang lebih sama dengan tema yang aku coba presentasikan,” jelasnya.

Suka atau tidak suka, keberadaan influencer saat ini memang mampu memberikan “influence” bagi beberapa pihak. Bagi para masyarakat luas—dalam hal ini para follower, informasi positif dapat tersebar dan bermanfaat serta dapat diterapkan bagi mereka. Jika sekadar mengunggah foto-foto outfit of the day ternyata mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, maka itulah yang dapat para influencer lakukan. Bagi fashion house atau retail fashion pun, kehadiran influencer ini juga memberikan pengaruh. Entah signifikan atau tidak, influencer dan figur publik mampu meningkatkan awareness lebih tinggi, jika dibandingkan sekadar mempekerjakan model.

 

Teks : Edwin Habibun
Ilustrasi : Keyza Anta Maulana