The Dream Seeker

“The biggest adventure you can take is to live the life of your dreams.” - Oprah Winfrey

0
87

Bermula dari mimpi, mungkin itu yang menjadi dasar kesuksesan bintang serba bisa Diandra Paramita Sastrowardoyo, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Dian Sastro. Mengapa dianggap sebagai bintang serba bisa? Karena sosoknya mampu menguasai berbagai bidang dan industri, tak hanya menonjolkan kemampuan beraktingnya di layar lebar. Kariernya bermula sebagai pemenang pertama ajang pencarian model GADIS Sampul di tahun 1996, yang saat itu merupakan an enormous thing bagi para remaja perempuan. Tak berhenti di situ, Dian bahkan menunjukkan kemampuan menulisnya dalam artikel Kata Dian di majalah yang sama. Daftar panjang keahliannya pun bertambah, ketika ia didaulat sebagai ikon sabun kecantikan, pembawa acara salah satu kuis terbesar di Indonesia, produser sebuah film pendek berjudul Drupadi, influencer gaya hidup sehat, hingga saat ini; pebisnis perempuan. Dan semua itu tak lepas dari mimpi-mimpinya yang selalu dipegang sejak lama.

“Dulu saya itu bukan siapa-siapa. Namun sekarang saya mampu menjadi seperti saat ini, itu semua berkat mimpi,” ungkapnya. “Saya kemudian berusaha keras untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya tersebut dan ketika sudah terwujud, tidak boleh berhenti di situ saja. Saya masih memiliki mimpi-mimpi lainnya. Untuk apa hidup kalau tidak memiliki mimpi?”

Berbicara mengenai bidang pendidikan, Dian memang tidak main-main. Ia lulus sarjana di jurusan Filsafat dan memperoleh gelar magister dengan predikat cum laude. Walaupun demikian, ia ternyata masih memiliki mimpi yang belum tercapai hingga saat ini di bidang pendidikan, yakni menjalani edukasi di luar negeri. Uniknya, Dian memiliki cara untuk melaksanakan mimpinya tersebut in a very good and positive way. Bekerja sama dengan Hoshizora Foundation, dirinya mendirikan insiatif Beasiswa Dian. “Saya sempat merasa banyak sekali kesempatan yang telah diterima dan puji Tuhan mendapatkan rezeki melimpat di industri (hiburan) ini. Tentunya, kesuksesan saya ini tidak akan terjadi tanpa ada orang-orang yang menghargai kerja kita. Bermula dari situ, saya kemudian mencoba untuk memberikan kembali kepada komunitas dan mempersembahkan apa yang telah diraih,” jelasnya.

Dian memulai gerakan ini dari langkah sederhana, sekadar pengumpulan buku dan fundraising untuk kemudian menyerahkan hasilnya ke beberapa perpustakaan. “Hingga pada akhirnya saya teringat akan mimpi untuk kuliah di luar negeri dengan menggunakan biaya sendiri, yang sampai sekarang tidak terwujud, namun mengapa tidak saya ganti dengan menyekolahkan anak-anak lain yang kurang mampu melalui beasiswa?” ujarnya. Setelah melalui berbagai tahap kurasi, terutama melalui tahap wawancara dan mimpi apa yang dimiliki anak-anak tersebut, Beasiswa Dian pun memiliki rencana jangka panjang dalam menyekolahkan anak-anak hingga jenjang universitas. Tak hanya itu, nantinya ia juga akan memberikan arahan dan pengenalan karier, setelah anak-anak tersebut lulus kuliah. Satu mimpi Dian lainnya pun pada akhirnya terwujud, melalui langkah yang jauh lebih bermakna.

LIVING THE LIFE
Menjadi pemenang GADIS Sampul berhasil membuka pintu Dian ke dunia hiburan nasional lebih besar lagi, terutama di industri perfilman Indonesia. Berhasil dilirik oleh Rudi Sujarwo, Dian membintangi film pertamanya bertajuk Bintang Jatuh, yang saat itu sekadar diputar secara indie di kampus-kampus Tanah Air. Kiprahnya di industri film kemudian berlanjut, ketika ia disandingkan dengan aktris film senior Christine Hakim di film Pasir Berbisik. Walaupun tidak mendapatkan recognition besar di negara sendiri, Dian berhasil membawa penghargaan perfilman internasional di Festival Film Asia Deauville, Prancis dan Festival Film Internasional Singapura. Pencapaian ini terbilang menakjubkan, mengingat kiprahnya yang masih sangat baru di perfilman dan keterpurukannya industri film nasional kala itu. Nama Dian semakin dikenal banyak orang sewaktu ia memerankan tokoh Cinta di film Ada Apa Dengan Cinta? bersama Nicholas Saputra. “Onscreen couple” ini pun kemudian didaulat sebagai ikon kebangkitan film nasional.

Sejak keterlibatannya di dunia perfilman nasional tahun 2000 silam, sudah belasan film ia bintangi hingga saat ini. Banyu Biru, Drupadi, 3 Doa 3 Cinta, dan Kartini ada sejumlah kecil di antaranya. Melihat film-film yang telah ia bintangi, Dian terkesan cukup menjadi pemilih memang dalam menentukan karakter apa yang ingin ia perani. Namun ternyata tidak demikian. “Terkadang memang saya cukup selective dalam mengambil film, tapi terkadang saya juga bisa menjadi permisif. Mungkin lebih ke apakah saya lagi memiliki waktu lebih banyak untuk bisa mengambil film dan lagi ingin mulai berakting lagi atau tidak,” jelasnya. Salah satu proyek film yang tengah dikerjakan ialah The Night Comes For Us, sebuah film aksi yang akan ditayangkan secara online di platform Netflix.

Menjadi pebisnis perempuan, ialah salah satu profesi yang tengah ia dalami saat ini, selain sebagai aktris. Baru-baru ia bekerjasama dengan empat nama besar di dunia teknologi dalam mengembangkan startup di bidang fotografi bernama Frame A Trip. Platform ini nantinya akan mampu menghubungkan antara fotografer prefesional lokal di tempat tujuan wisata, baik di dalam maupun luar negeri. “Untuk itu kami ingin mengundang para fotografer untuk bergabung di dalam platform ini, sekaligus mengangkat industry fotografi lokal dan wisata secara bersamaan,” tuturnya.

Dian pun juga mulai merambah ke industri kuliner lokal dengan mendirikan restoran MAM. Awal mula terciptanya restoran ini memang sisi personal Dian yang mulai melirik gaya hidup sehat beberapa tahun belakangan ini. Ia pun mulai mengembangkan katering diet sehat, hingga berdirinya MAM di bilangan Senayan. “Awal kita buka animonya sangat besar. Namun kemudian tidak berapa lama kita buka, bersamaan dengan bulan puasa yang mengakibatkan animonya langsung turun pesat. Sekarang kita lagi menggiatkan kembali pemasaran MAM, dengan menyajikan menu-menu masakan sehat yang baru. Intinya kita ingin mengajak masyarakat Ibu Kota sekaligus untuk memulai gaya hidup sehat,” jelasnya.

Ibu dua anak ini memang mulai menjalani gaya hidup sehat sejak beberapa tahun lalu. “Sebenarnya memang ini terbilang mendadak suka olahraga. Sejak tahun 2014 lalu lebih tepatnya, ketika saya harus terlihat lebih fit di depan kamera,” ceritanya. “Pada dasarnya memang saya masih amatir dan mulai mengajak teman-teman yang amatir juga untuk olahraga bersama. Semakin lama, munculah yang namanya #PertemananSehat itu. Ternyata, hashtag ini mampu memberi pengaruh ke orang banyak untuk mengikuti olahraga juga dan memulai gaya hidup sehat. Kita pun secara tidak langsung turut senang karena berhasil meng-influence masyarakat orang ke yang lebih positif,” lanjutnya.

Living the life memang tampaknya sesuai dengan kehidupan Dian yang multiprofesi. Ia berkeyakinan, apapun yang diraih dan diterima harus dijalankan dengan ikhlas. “Setiap orang pasti memiliki berbagai momen up and down masing-masing, dan ini tidak boleh dipaksakan,” ungkapnya. “Maksudnya, kalau memang sedang berada di momen terpuruk, diterima saja dan jangan memaksakan diri. Sebaliknya, kalau sedang di atas, jangan menjadi malas dan terus pertahankan. Kita juga tidak boleh memiliki prinsip take too much credit for our self,” tambahnya.

Oleh Edwin Habibun

Fotografi oleh Tommy Siahaan
Pengarah Gaya oleh Edwin Habibun

SHARE
Next articleLuxe Shore